Tuesday, December 16, 2008

Ibu Ijah, 10 Tahun Hidup di Bawah Tenda

MANUSIA berharap bisa menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan nyaman dan tenang. Termasuk tinggal di rumah dan selalu dekat dengan orang-orang tercinta.Namun, hal itu tak berlaku bagi Ibu Ijah, 70. Di usianya yang sudah senja, ia malah menghabiskan masa tuanya di bawah tenda, tanpa keluarga, dan tanpa kasih sayang.
*******************************************************************
SEORANG ibu tua dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih karena uban, sore itu, 28 Mei 2007, tampak sibuk menjahit bajunya yang robek. Sama sekalidia tak menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Bunyi suara knalpot mobil dan motor yang melintas hanya sekitar enam atau tujuh meter dari tempatnya duduk tak membuat dia berpikir berhenti dari aktivitasnya itu.

Sekitar setengah jam kemudian, perempuan tua itu mengambil dua tas. Satu tas pinggang dan satunya lagi ransel. Setelah itu, ia bergegas berdiri dan keluar dari balik tenda berwarna biru yang penuh sesak dengan barang. Sejenak ia merapikan rambutnya dan berniat selangkah. Namun baru saja akan melangkah, penjual es campur yang berjualan tak jauh dari tenda berwarna biru, tempat perempuan tua itu, datang dan menyapanya.

Mereka terlihat berbincang serius. Si wanita beberapa kali menunjuk ke arah tenda. Entah, apa yang ditanyakan si penjual es campur tadi. Perempuan tersebut adalah Ibu Ijah. Ia tinggal di Jl Perintis Kemerdekaan, persis di samping swalayan Alfa. Tapi yang ia tinggali bukanlah rumah sepertilayaknya warga lain di Jl Perintis. Ibu Ijah tinggal di bawah sebuah tenda yang ia pasang sendiri seperti layaknya anakpramuka di sekolah-sekolah.

Di dalam tenda itu, Ibu Ijah memiliki dua kompor, beberapa panci, gelas, piring, tempat air yang
dibeli sendiri, serta pakaian yang dibungkus beberapa tas.“Saya sudah beberapa tahun tinggal di sekitar sini. Pastinya saya tidak ingat lagi, namun kira-kira sepuluh tahun. Sebelum di tempat tenda ini, saya tinggal di lokasi bangunan Alfa, juga dengan tenda. Saat Alfa mulai dibangun saya pindah ke sini,” kata Ibu Ijah sambil menunjukkan tenda tempat tinggalnya kepada penulis
yang ikut mendekati tendanya beberapa saat setelahpenjual es campur tadi menyapanya.
Siang itu, saat si penjual es campur mendatanginya bersama penulis yang menyusul kemudian,
Ibu Ijah mengaku akan ke salah satu rumah di sekitar jembatan Tello. Namun, rencana itu diurungkan karena sibuk melayani pertanyaan-pertanyaan penulis.Meski hanya tinggal di bawah tenda dan tidur di atas tumpukan barang-barang, termasuk tas pakaiannya, namun ia terlihat tegar. “Saya sudah terbiasa. Saya memasak, makan dan tidur di sini. Kemarin (dua hari lalu, red) saya juga sempat membeli ikan Rp2.000,” katanya.

Ia lantas membuka panci yang masih berisi nasi yang baru saja matang dan belum disentuh sama sekali. Karena tinggal di bawah tenda, hidup Ibu Ijah tidaklah enak dan nyaman. Bahkan, menurutnya, jika malam tiba, ia tidur di atas tumpukan barang-barang
miliknya. Tak ada lampu ataupun pelita di dalam tendanya. “Lampu jalan cukup terang, makanya saya tidak mencari lampu sendiri. Kalau malam, saya tidur ditemani kucing. Nyamuk juga banyak, tapi saya sudah terbiasa,” ujarnya menceritakan kehidupannya.

Ia juga mengaku tak pernah kehujanan di bawah tenda itu, sebab tidurnya di atas barang dan hanya beberapa centimeter saja dari tenda. Hanya saja, bunyi hujan yang menerpa tenda diakui mengganggu saat iamencoba tidur.Selama sekitar sepuluh tahun hidup di bawah tenda, Ibu
Ijah mengaku tak pernah sakit keras. Paling-paling, ia hanya sakit kepala. Untuk tetap bertahan hidup, Ibu Ijah mengaku banyak dibantu orang. “Saya biasa dikasi uang sama orang. Uang tersebutlah yang saya pakai beli beras,ikan, serta peralatan masak,” bebernya.

Pengakuan Ibu Ijah itu juga dibenarkan tukang becak yang mangkal di depan Alfa. Bagaimana
sebenarnya awal Ibu Ijah tinggal di bawah tenda. Apakah ia memang tak punya keluarga? “Saya sebenarnya orangLeureng, Siwa, Sengkang. Saya juga punya rumah di sana, namun diusir orang. Barang-barang saya juga diambil. Kalau di Makassar ini, saya tidak punya rumah, jadi saya tinggal di tenda saja,” katanya seraya menyebut bahwa yang menyuruh dia pergi dari rumahnya bukan dari keluarganya.

Ia juga mengaku punya beberapa anak. Suaminya yang sudah meninggal bernama La Muga, seorang bekas tentara asal Tala, Pangkep.“Saya melahirkan anak sepuluh. Tiga di antaranya
meninggal. Ada juga di antara anak saya sopir mobil. Setelah suami pertama saya meninggal, saya sempatkawin lagi namun akhirnya saya tinggalkan,” katanya yang sesekali berbicara dalam bahasa Bugis. Ibu Ijah sendiri tak banyak bercerita soalanak-anaknya. Termasuk di mana mereka dan kenapa ia tak ikut pada salah satu anaknya yang sudah besar.Informasi yang dihimpun penulis menyebutkan bahwa Ibu Ijah juga adalah salah satu korban kospin yang sempat menghebohkan Sulsel. Hal itu juga diperkuat dengan pengakuan Ibu Ijah sendiri saat penulis mendesaknya. Ia malah mengaku kehilangan uang sekitar Rp50juta. amiruddin@fajar.co.id)

No comments:

Post a Comment